Langsung ke konten utama

Photo Story









Jatitujuh Pernah Miliki Venue Kayak/Kano Terbaik di Asia

Oleh: Prima Mulia

Perhelatan Asian Games 2018 Jakarta Palembang untuk nomor kano dan kayak digelar di TatarPasundan, tepatnya di Bendung Rentang, Desa Panongan, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka, JawaBarat, Agustus 2018 lalu.

Keriuhan pesta olahraga terbesar se Asia dan antusiasme warga di pedesaan yang tak jauh lokasinya dari Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati ini begitu terasa sejak perjalanan dari arah Kadipaten menuju lokasi. Mungkin mereka berfikir, kapan lagi bisa melihat aksi olahraga level dunia di kota yang terkenal dengan industri gentengnya ini jika tidak sekarang, gratis lagi.

Nama Majalengka sontak mendunia. Para atlet kano dan kayak dari seluruh Asia tersebut memuji venue kano/kayak sepanjang 450 meter di Bendung Rentang sebagai yang terbaik, mulai dari suasana, penataan kawasan, kualitas air, sampai tingkat arusnya yang deras dengan kecepatan 14 meter kubik per detik. Bahkan disebut lebih baik dari venue serupa di Asian Games 2010 Guangzhou, Cina atau AsianGames 2014 di Hanam, Korea Selatan. Atlet tuan rumah sendiri keteteran untuk menaklukan arus deras bendung Rentang karena selama ini Indonesia tak memiliki pusat pelatihan kayak/kano di arus deras.

Bahkan induk organisasi olahraga kayak dan kano di Indonesia meminta agar kawasan ini dijadikan pusat pelatihan yang permanen. Sayangnya, wacana tersebut sulit terwujud karena kawasan ini merupakan saluran utama irigasi untuk pertanian di Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.

















      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA DARI JATIWANGI KOTA TERAKOTA MENJADI MAJALENGKA KOTA TERAKOTA?

Oleh: Prabowo Setyadi Kebudayaan mengolah tanah di Jatiwangi dimulai sejak tahun 1905. Ketika H. Umar Bin Ma'ruf warga Desa Burujul Wetan. Kecamatan Jatiwangi. Kabupaten Majalengka, ingin agar atap suraunya dinaungi oleh genteng, bukan lagi oleh rumbia. Kemudian H. Umar mendatangi Bapak Barnawi di daerah Babakan Jawa. Kabupaten Majalengka untuk membagi pengetahuannya membuat genteng. Singkatnya H. Umar dan warga Burujul Wetan mampu membuat genteng untuk mengganti atap surau-nya. Begitupun dengan Batu Bata, bersamaan dengan genteng. Jadi, kebudayaan mengolah tanah menjadi genteng dan bata menjadi sebuah komoditas sudah terjadi sejak tahun 1905. Belanda yang ketika itu masih menguasai Indonesia yang bernama Hindia Belanda, ketika pada tahun 1910-1030 terjadi wabah Pess di beberapa wilayah di Hindia Belanda yang di awali di Malang, yang juga akhirnya mewabah di Batavia, melakukan penelitian penyebab wabah Pess tersebut, dan akhirnya penyebabnya adalah salah satunya berasal dari atap r...